Tarif Bromo Naik, Turis Asing Batalkan Kunjungan

Sekitar 20 persen wisatawan asing membatalkan rencana perjalanan ke Gunung Bromo karena tarif masuk ke kawasan wisata itu naik mulai Mei 2014. “Paket wisatawan asing ditawarkan setahun lalu dengan tarif lama," kata penyedia jasa wisata di Kabupaten Malang, Rudy Widodo, Selasa, 11 Maret 2013. Agen perjalanan tak bisa langsung menaikkan harga karena sudah dipublikasikan dalam pameran wisata di luar negeri.

Tarif tiket masuk ke Bromo bagi wisatawan dalam negeri semula Rp 10 ribu, naik menjadi Rp 37.500, sedangkan pada hari libur Rp 67.500. Adapun tarif untuk wisatawan mancanegara semula Rp 72.500, naik menjadi 267.500 dan Rp 640 ribu pada hari libur. Akibatnya, banyak wisatawan asing mengalihkan perjalanan wisata ke negara di Asia Tenggara lainnya. "Kenaikan tarif jelas merugikan pelaku wisata dan warga sekitar," kata Rudy.

Tak hanya berdampak bagi agen perjalanan, kenaikan tarif turut mempengaruhi penyedia transportasi umum, pemandu wisata, hotel, industri kreatif, dan rumah makan di sekitar Bromo. Padahal, Bromo adalah andalan pariwisata Jawa Timur.

Kabupaten Malang merupakan salah satu pintu masuk utama menuju Bromo karena mudah dijangkau wisatawan yang menggunakan kereta api, pesawat terbang, ataupun bus. Adapun selama ini penyedia jasa transportasi jip menuju lautan pasir Gunung Bromo melayani empat kali perjalanan setiap hari. Tarif setiap perjalanan jip berpenumpang lima orang dipatok Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta.

Menanggapi keluhan penyedia jasa wisata di Malang, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Ayu Dewi Utari, mengatakan tarif masuk ke Bromo tidak pernah naik selama 16 tahun. Sedangkan, dia melanjutkan, jumlah pengunjung terus meningkat sehingga mengancam kelestarian kawasan konservasi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). "Retribusi itu menjadi pendapatan negara bukan pajak, diserahkan ke kas negara," ujarnya.

Menurut Ayu, pada 2011, wisatawan dalam negeri yang berkunjung ke Bromo berjumlah 250 ribu. Pada 2012, jumlah tersebut naik menjadi 350 ribu orang, lalu menjadi 579 ribu pada 2013. Adapun jumlah turis asing rata-rata 50 ribu orang per tahun.

Sedangkan pendapatan pada 2011 yakni Rp 1,2 miliar. Pada 2012, pendapatan naik menjadi Rp 1,8 miliar, sedangkan pada 2013 pendapatan melonjak signifikan mencapai Rp 6,1 miliar.

Jumlah pendapatan, kata Ayu, tak sebanding dengan biaya yang dikucurkan negara untuk memperbaiki kawasan TNBTS. Setiap tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dialokasikan untuk perbaikan TNBTS mencapai Rp 18 miliar. "Anggaran perbaikan kawasan jauh lebih besar."




 

EKO WIDIANTO