Belum Ada Kabar Penundaan, Eksekusi Satinah

Kepala Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Gatot Abdullah Mansyur mengatakan belum didapat kabar adanya penundaan eksekusi Satinah. Walau demikian, proses negosiasi agar TKW itu bebas dari hukuman pancung teerus berlanjut.

“Belum ada konfirmasi penundaan eksekusi tersebut. Saya pun juga belum mendapat laporan dari tim utusan khusus presiden dari Arab Saudi,” kata Gatot, Senin (31/3).

Seperti diketahui, keluarga majikan Satinah meminta uang tebusan mencapai 15 juta riyal. Jumlah itu kemudian diturunkan menjadi 10 juta riyal, lalu turun lagi menjadi 7 juta riyal atau setara dengan Rp 21 miliar, dan kini turun menjadi 5 juta riyal atau setara dengan Rp 15 miliar.

Untuk itu, menurut Gatot, pihak pemerintah terus berusaha agar Satinah bisa terbebas dari hukuman pancung, dan pihak keluarga korban mau menerima diyat yang tersedia. Saat ini sudah terkumpul Rp 14, 4 miliar yang diperoleh dari APBN dan sumbangan dari berbagai pihak.

“Yang diharapkan pemerintah agar keluarga korban dapat menerima diyat yang sudah tersedia yaitu 4 juta Riyal. Kita juga berupaya agar eksekusi ditunda untuk mengumpulkan dana tambahan. Intinya proses negoisasinya tetap kami lanjutkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Satinah binti Jumadi Amad, akan dieksekusi pada 3 April ini jika pemerintah tak sanggup membayar uang diyat Rp 21 miliar. Tenaga kerja asal Ungaran Barat, Semarang, Jawa Tengah ini mengaku membunuh majikannya, Nura Al Garib, karena tak tahan kerap diperlakukan kasar.

Selanjutnya, di pengadilan, perempuan berusia 40 tahun itu diputuskan bersalah dan dipenjara di Kota Gaseem sejak 2009 hingga akhirnya diganjar hukuman mati di tingkat kasasi. Satinah seharusnya dihukum pancung pada Agustus 2011, namun diperpanjang hingga 3 kali, yaitu Desember 2011, Desember 2012 dan Juni 2013.

Lalu apa yang dilakukan Satinah selama menunggu eksekusi mati di dalam penjara Arab Saudi? Sulastri, kakak ipar Satinah menjelaskan, selama berada di dalam penjara, Satinah menyibukkan diri dengan beribadah dan membaca Al Qur’an. Selain itu, menurutnya, Satinah juga membuat kerajinan tangan aneka rajutan dari benang wol berupa tas dan topi.